TUGAS MANDIRI 10
A03_Aura Azzahra
1. Buatlah 10 ringkasan penting berdasarkan isi Modul 9
- Proposal bukan sekadar tugas administratif, melainkan peta jalan akademik yang menunjukkan perencanaan penelitian secara logis, sistematis, dan dapat dipertanggungjawabkan.
- Proposal adalah fondasi utama proses penelitian ilmiah — dokumen ini merupakan manifestasi pemikiran riset yang matang, bukan sekadar dokumen untuk mendapatkan tanda tangan dosen.
- Fungsi fundamental proposal termasuk sebagai cetakan biru penelitian yang menggambarkan seluruh tahapan riset dari awal sampai akhir sehingga penelitian tidak “tersesat”.
- Proposal berperan sebagai alat persetujuan dan pendanaan, dipakai untuk meminta persetujuan pembimbing maupun institusi pendanaan seperti LPDP atau lembaga penelitian lain.
- Proposal mencerminkan kesiapan akademik peneliti, menunjukkan pemahaman terhadap topik, penguasaan teori terkait, serta kemampuan merancang metodologi secara tepat.
- Unsur-unsur pokok proposal meliputi: judul penelitian yang ringkas dan jelas; latar belakang masalah yang kuat; rumusan masalah/pertanyaan penelitian; serta tinjauan literatur dan kerangka teori yang relevan.
- Metodologi dalam proposal harus rinci, termasuk pilihan pendekatan (kuantitatif, kualitatif, atau mixed), cara pengambilan sampel, teknik pengumpulan data, dan teknik analisis yang sesuai dengan tujuan riset.
- Sistematika penulisan yang tertib dan konsisten mencerminkan disiplin akademik — proposal harus mengikuti struktur baku (supaya komunikasi gagasan berjalan efektif) dan format institusional yang ditetapkan.
- Karakter proposal yang berkualitas antara lain: bahasa yang jelas dan formal; alur berpikir yang logis; dukungan referensi yang relevan; serta klaim dan metode yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.
- Revisi dan evaluasi akhir sangat penting sebelum pengumpulan, termasuk pemeriksaan referensi, daftar pustaka, dan konsistensi format (misalnya gaya sitasi seperti APA) supaya profesionalitas dan integritas akademik terjaga.
2. Pertanyaan Pemantik (Triggering Questions)
1. Struktur: "Jika diibaratkan rumah, bagian proposal manakah yang berfungsi sebagai pondasi dan bagian manakah yang berfungsi sebagai atap? Jelaskan mengapa latar belakang masalah (pondasi) harus selalu koheren dengan rumusan masalah (tiang)?"
JAWAB : Jika proposal diibaratkan rumah, latar belakang masalah berfungsi sebagai pondasi, rumusan masalah sebagai tiang, dan tujuan penelitian sebagai atap. Latar belakang harus koheren dengan rumusan masalah karena rumusan masalah muncul dari persoalan yang dijelaskan dalam latar belakang; jika tidak selaras, arah penelitian menjadi tidak jelas dan proposal menjadi lemah.
2. Metodologi: "Bagaimana seorang peneliti dapat memutuskan bahwa pendekatan kualitatif lebih tepat digunakan daripada kuantitatif (atau sebaliknya) untuk sebuah topik, dan elemen kunci apa yang menjadi penentu utama dalam Bab Metodologi?"
JAWAB : Seorang peneliti dapat memutuskan menggunakan pendekatan kualitatif atau kuantitatif dengan melihat tujuan dan jenis data yang dibutuhkan dalam penelitiannya. Pendekatan kualitatif lebih tepat digunakan jika penelitian ingin memahami makna, proses, atau pengalaman secara mendalam, sedangkan pendekatan kuantitatif digunakan jika penelitian bertujuan mengukur, membandingkan, atau menguji hubungan antarvariabel dengan data angka.
3. Fungsi: "Proposal penelitian didefinisikan sebagai dokumen prospektif (rencana ke depan). Selain untuk mendapatkan persetujuan, apa konsekuensi terburuk yang mungkin dihadapi peneliti jika ia membuat proposal yang sangat detail, tetapi ternyata tidak konsisten dengan pelaksanaan riset di lapangan?"
JAWAB : Jika proposal penelitian dibuat sangat detail tetapi tidak konsisten dengan pelaksanaan riset di lapangan, konsekuensi terburuknya adalah penelitian dianggap tidak valid dan melanggar etika akademik. Ketidaksesuaian ini dapat menurunkan kepercayaan dosen pembimbing atau penguji, menyebabkan data dipertanyakan, bahkan berujung pada penolakan hasil penelitian atau keharusan mengulang penelitian. Selain itu, peneliti juga bisa dinilai tidak disiplin dan kurang bertanggung jawab dalam menjalankan rencana penelitian yang telah disepakati.
4. Integritas: "Dalam Tinjauan Pustaka, kita dituntut untuk mencari 'research gap' (kesenjangan riset). Apa perbedaan esensial antara research gap yang kuat dan orisinal dengan ide penelitian yang hanya sekadar mengulang riset orang lain (duplikasi)?"
JAWAB : Research gap yang kuat dan orisinal muncul dari analisis kritis terhadap penelitian terdahulu, yaitu dengan menemukan aspek yang belum dibahas, kurang mendalam, atau belum relevan dengan konteks tertentu, sehingga penelitian baru memberikan kontribusi nyata. Sebaliknya, ide penelitian yang hanya mengulang riset orang lain cenderung meniru topik, metode, dan fokus yang sama tanpa menawarkan sudut pandang, konteks, atau pengembangan baru, sehingga tidak menambah pengetahuan dan berisiko dianggap duplikasi.
5. Revisi & Seminar: "Mengapa tahap revisi proposal dan persiapan presentasi seminar dianggap sama pentingnya dengan penyusunan isi proposal itu sendiri? Hal-hal non-teknis apa yang paling sering membuat proposal ditolak pada saat seminar?"
JAWAB : Tahap revisi proposal dan persiapan presentasi seminar sama pentingnya dengan penyusunan isi proposal karena keduanya memastikan gagasan penelitian dapat dipahami, dipertanggungjawabkan, dan disampaikan secara meyakinkan kepada penguji. Proposal yang baik bisa ditolak jika peneliti tidak mampu menjelaskan alur berpikirnya dengan jelas saat seminar. Hal-hal non-teknis yang sering menyebabkan penolakan antara lain penyampaian yang tidak runtut, kurang percaya diri, tidak menguasai materi, sikap defensif terhadap kritik, serta ketidaksesuaian antara isi proposal dan penjelasan lisan.
3. Pertanyaan Reflektif (Reflective Questions)
1. Pengalaman Menulis: "Bagian manakah dari struktur proposal (Latar Belakang, Tinjauan Pustaka,atau Metodologi) yang menurut Anda paling menantang untuk disusun secara logis, dan strategi pribadi apa yang Anda gunakan untuk mengatasi tantangan tersebut?"
JAWAB : Menurut saya, bagian yang paling menantang untuk disusun secara logis adalah tinjauan pustaka karena harus mampu mengaitkan berbagai teori dan hasil penelitian terdahulu secara runtut sekaligus menemukan research gap yang jelas. Untuk mengatasinya, saya biasanya membuat peta konsep dari setiap sumber bacaan, mencatat poin penting dan persamaannya, lalu menyusunnya dari umum ke khusus agar alurnya lebih terarah dan tidak sekadar menjadi rangkuman teori.
2. Komitmen: "Proposal adalah komitmen tertulis. Jika Anda sedang menyusun proposal, apakah Anda benar-benar yakin bahwa waktu dan sumber daya yang Anda rencanakan dalam Jadwal Penelitian realistis? Jika tidak, bagaimana Anda akan menyeimbangkan idealisme riset dengan realitas sumber daya Anda?"
JAWAB : Jika saya jujur, perencanaan waktu dan sumber daya dalam jadwal penelitian sering kali masih bersifat ideal dan belum sepenuhnya realistis. Untuk menyeimbangkan idealisme riset dengan realitas, saya akan memprioritaskan tujuan penelitian yang paling penting, menyesuaikan metode dengan keterbatasan waktu dan biaya, serta menyusun jadwal yang fleksibel agar penelitian tetap dapat berjalan tanpa mengorbankan kualitas dan integritas ilmiah.
3. Etika: "Menurut Anda, seberapa besar tanggung jawab etis seorang peneliti untuk memastikan bahwa semua sumber yang dicantumkan dalam Daftar Pustaka benar-benar telah ia baca dan pahami, bukan sekadar pelengkap formalitas?"
JAWAB : Menurut saya, tanggung jawab etis peneliti untuk memastikan semua sumber dalam daftar pustaka benar-benar dibaca dan dipahami sangatlah besar, karena sumber tersebut menjadi dasar argumen dan keputusan metodologis dalam penelitian. Mencantumkan referensi hanya sebagai formalitas tidak hanya melemahkan kualitas ilmiah, tetapi juga berpotensi menyesatkan pembaca dan melanggar integritas akademik, sehingga peneliti wajib bersikap jujur dan bertanggung jawab terhadap setiap rujukan yang digunakan.
4. Keterbatasan: "Semua proposal memiliki keterbatasan. Setelah mempelajari unsur-unsur proposal, apa yang akan Anda tulis di bagian Keterbatasan Penelitian Anda untuk menunjukkan bahwa Anda telah berpikir kritis dan realistis tentang ruang lingkup riset Anda?"
JAWAB : Pada bagian keterbatasan penelitian, saya akan menuliskan batasan ruang lingkup topik, jumlah dan karakteristik subjek penelitian, keterbatasan waktu pengumpulan data, serta kemungkinan bias metode atau instrumen yang digunakan. Dengan menyebutkan keterbatasan tersebut secara jujur, saya menunjukkan bahwa penelitian ini disusun secara realistis, tidak berlebihan dalam klaim, dan terbuka terhadap pengembangan atau penelitian lanjutan di masa depan.
5. Transparansi: "Sejauh mana Anda merasa proposal yang Anda susun sudah cukup transparan dalam menjelaskan setiap tahapan metodologi, sehingga jika ada peneliti lain yang ingin mereplikasi studi Anda, mereka dapat melakukannya dengan mudah?"
JAWAB : Saya merasa proposal yang saya susun sudah cukup transparan karena setiap tahapan metodologi dijelaskan secara runtut, mulai dari pendekatan penelitian, subjek dan sumber data, teknik pengumpulan data, hingga cara analisisnya. Dengan penjelasan yang jelas dan terperinci, peneliti lain memiliki gambaran yang memadai untuk mereplikasi studi ini, meskipun tetap terbuka kemungkinan penyesuaian sesuai dengan konteks dan kondisi penelitian mereka.
Komentar
Posting Komentar